Sabtu, 29 Juni 2013

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA MASA AWAL KANAK – KANAK (EARLY CHILDHOOD)


A.    DEVELOPING SELF
1.      KONSEP DIRI DAN PERKEMBANGAN KOGNITIF
Self Concept adalah gambaran total dari diri kita. Self concept itu sendiri adalah sesuatu yang kita percayai mengenai siapa kita atau dengan kata lain adalah gambaran total dari kemampuan kita dan sifat-sifat kita. Self concept adalah gambaran deskripsi dan evaluasi mental dari kemampuan dan sifat seseorang.
Perasaan mengenai self concept itu sendiri juga memiliki aspek-aspek sosial : anak-anak menganggap self-image mereka itu sebagai penilaian orang lain terhadap mereka. Gambaran diri menjadi sebuah fokus pada masa kanak-kanak sebagaimana anak-anak mengembangkan kewaspadaan diri mereka. Self-concept menjadi lebih jelas ketika mereka memiliki kemampuan kognitif dan peningkatan dalam tugas perkembangan mulai dari anak-anak, remaja, dan dewasa.
a.      Changes in Self Defenition : The 5 to 7 shifts        
Perkembangan self-concept terjadi seiring dengan perubahan pada self-defenition, yaitu serangkaian karakteristik dimana anak-anak menggambarkan diri mereka sendiri.
Pada umur antara 5 sampai 7 tahun, pernyataan mengenai gambaran diri pada anak-anak itu termasuk pada tahap single representation, yaitu tahap pertama dari teori Piaget dimana anak-anak menggambarkan diri mereka secara individual, satu dimensi, dan terpotong-potong dan tidak memiliki kaitan ciri-ciri pada setap pernyataannya. Hal ini terjadi karena anak-anak masih memiliki kapasitas memory yang terbatas sehingga dia tidak dapat membedakan setiap aspek dirinya pada suatu waktu. Dan dia tidak dapat membedakan antara Real self yaitu dirinya sendiri, dan ideal self yaitu bagaimana seharusnya dirinya itu. Pada umur sekitar 5 atau 6 tahun, anak-anak mulai bisa menrangkaikan setiap kalimat dengan sebuah hubungan yang ada pada dirinya. Tahap ini disebut dengan representational mappings yaitu hubungan yang logis antara gambaran dirinya. Dan tahap yang ketiga adalah representational systems yang merupakan tahap pada masa kanak-kanak tengah, dimana anak-anak mulai mengintegrasikan berbagai fitur-fitur spesifik pada dirinya menjadi sebuah hal yang umum yang merupakan konsep multidimensi.
Contohnya seperti “Saya bermain dengan baik di hoki, tetapi saya tidak terlalu cocok di aritmatika”.
b.      Cultural Differences in Self Description
Penelitian mengatakan bahwa budaya mempengaruhi konsep diri anak-anak. Orangtua mengajarkan melalui pembicaraan sehari-hari, ide-ide budaya, dan kepercayaan tentang bagaimana mendefenisikan diri. Contohnya, orang tua Cina cenderung meningkatkan aspek interdependent yang mana merupakan perilaku yang pantas dan memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap komunitas. Orangtua Amerika Eropa cenderung meningkatkan aspek Independent yang mana merupakan sisi individualitas, ekspresi diri, dan self-esteem. Perbedaan nilai-nilai budaya itu mempengaruhi anak-anak untuk menerima diri mereka sendiri dalam setiap budaya. Studi banding terhadap 180 anak prasekolah Eropa Amerika dan Cina, anak TK dan anak kelas 2 Sekolah Dasar (Wang, 2004) menemukan bahwa anak-anak menyerap gaya budaya yang berbeda tentang self-defenition pada usia 3 sampai 4 tahun, dan berkembang seiring usia. Anak-anak Eropa Amerika cenderung mendeskripsikan mereka dalam hal atribut pribadi dan kepercayaan, sebagaimana anak Cina lebih membicarakan tentang kategori sosial dan lebih berhubungan dengan orang lain.
ü  Harga Diri (Self-Esteem)
Harga diri adalah penilaian yang dibuat seseorang tentang kelayakan dirinya yang didasari oleh kemampuan kognitif yang tumbuh untuk menjelaskan diri seseorang.
·         Perubahan Perkembangan dalam Harga Diri
Dalam sebuah studi di Belgia (Verschueren, Buyck, dan Marcoen, 2001), para periset mengukur representasi diri anak usia 5 tahun dengan menggunakan dua pengukuran yaitu :
1.      Self Perception Profile for Children (persepsi spesifik mengenai penampilan)
2.      Puppet Interview (interview dengan menggunakan boneka)
·         Ketergantungan Harga Diri : Pola “Ketidakberdayaan”
Anak yang memiliki harga diri yang tinggi memiliki motivasi diri untuk sukses, sedangkan anak yang memiliki harga diri yang rendah akan memiliki emosi yang negatif dan cenderung pasrah pada keadaan dimana mereka menemukan kesulitan. Pola “ketidakberdayaan” ini tergantung oleh pola asuh dan keadaan lingkungan. Misalnya dalam menegur anak kita harus menggunakan kata-kata yang tidak menyakitkan.
ü  Pemahaman dan Pengaturan Emosi
Pada masa awal kanak-kanak, memahami dan mengatur emosi dapat membantu kompetensi sosial anak. Hal ini sangat berpengaruh dalam mengatur perilaku dan persaan mereka bahkan akan mempengaruhi tipe permainan yang akan mereka  mainkan. Hubungan dalam keluarga sangat mempengaruhi perkembangan pemahaman emosi. Pada masa awal kanak-kanak ini mereka mampu memahami bahwa emosi berrkaitan dengan pengalaman dan keinginan meskipun demikian mereka belum memiliki pemahaman yang penuh mengenai emosi seperti kebanggaan dan mereka mengalami kesulitan dalam menyelesaikan emosi yang bertentangan.
·         Emosi yang Diarahkan pada  Diri Sendiri
Emosi yang diarahkan pada diri sendiri itu seperti rasa bersalah, rasa bangga, aib dan menerima perilaku yang ditetapkan orangtua. Anak pada usia 4 sampai 5 tahun tidak akan mengetahui dan menyadari akan rasa bangga atau malu, sedangkan anak yang berusia 5 sampai 6 tahun akan mengetahui bahwa orang disekitar mereka  merasakan bangga atau malu terhadap tindakkan mereka. Anak yang berumur 6 sampai 7 tahun juga akan dapat merasakan malu atau bangga terhadap diri mereka sendiri meskipun tanpa adanya penilaian secara langsung dari orang lain.
·         Emosi-Emosi yang Bersamaan
Anak kecil akan merasa kebingungan untuk memahami perasaan mereka dalam mengalami reaksi emosi yang berbeda pada saat bersamaan. Perbedaan dalam memahami emosi ini terjadi pada anak usia 3 tahun. Anak pada usia 3 tahun dapat membedakan ekspresi senang dan ekspresi sedih.

v  ERIKSON : INITIATIVE VS GUILT
Inisiatif vs rasa bersalah merupakan tahap ketiga dalam perkembangan psikososial. Pada tahap ini jika anak dalam melakukan sesuatu dan diberi tanggapan yang positif dari orang disekitarnya maka inisiatif akan muncul, tetapi jika anak melakukan sesuatu hal dan mendapat respon negatif dari orang sekitar maka rasa bersalah akan muncul.

B. GENDER
Gender identity adalah kesadaran seseorang akan jiwa mereka kearah perempuan atau kelaku-lakian. Gender merupakan aspek penting dalam mengembangkan konsep diri.
1.      Perbedaan Gender
Perbedaan gender berbeda dengan perbedaan jenis kelamin. Perbedaan gender merupakan perbedaan psikososial antara laki-laki dan perempuan, sedangkan perbedaan jenis kelamin merupakan perbedaan fisik antara pria dan wanita. Perbedaan utama pada gender berada pada perilaku yang lebih agresif dari anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Secara psikososial anak perempuan lebih bersifat empatik dan suka menolong. Pada masa kanak-kanak awal, dan juga pada masa praremaja dan remaja, anak perempuan cenderung mengggunakan bahasa yang lebih responsif daripada anak laki-laki.
Skore test kecerdasan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antar gender. Namun, dalam hal kemampuan spesifik  anak pereempuan cenderung lebih baik dalam kemampuan verbal, sedangkan laki-laki cenderung lebih baik dalam hal penalaran sains.
Sebagai batita anak laki-laki dan perempuan memiliki kecenderungan yang sama untuk melakukan perilaku-perilaku tertentu seperti memukul,mengigit, tantrum, dan memiliki kemungkingan untuk menunjukkan tempramen yang “sulit”. Tapi, perilaku ini akan bertahan sampai masa remaja, ketika anak perempuan lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi. Hal yang paling penting adalah bahwa perbedaan gender ini hanya valid pada kelompok besar anak.

2.      Berbagai Sudut Pandang Perkembangan Gender
Perbedaan gender disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman dan pengharapan sosial yang ditemui anak laki-laki dan perempuan sejak mereka lahir. Pengalaman-pengalaman ini berhubungan dengan tiga aspek identitas gender :
1.    Peran Gender (gender roles) : peran kepribadian yang dianggap sesuai oleh suatu budaya terhadap laki-laki atau perempuan.
2.    Penipean Gender (gender typing) : proses dilekatkannya peran gender terhadap anak-anak. Biasanya terjadi pada masa awal kanak-kanak dan setiap anak-anak memiliki peran gender yang berbeda.
3.    Stereotip Gender (gender stereotypes) : Tanggapan yang sudah melekat tentang perbedaan prilaku peran pria dan wanita. Misalnya, semua perempuan dianggap pasif dan bergantung, sedangkan semua laki-laki dianggap agresif dan mandiri.
Empat sudut pandang perkembangan gender :
1.      Pendekatan Biologis
Faktanya pada usia 5tahun, otak anak laki-laki lebih besar sepuluh persen dibandingkan anak perempuan, hal ini disebabkan karena anak laki-laki memiliki gray matter yang lebih banyak pada korteks serebrum, sedangkan anak perempuan memiliki kepadatan neuron yang lebih tinggi. Perbedaan ini berhubungan dengan kelancaran bahasa, karena anak perempuan memiliki corpus callosum  yang lebih besar, koordinasi yang lebih baik antara otak kiri dan otak kanan mungkin dapat menjelaskan kenapa anak perempuan memiliki kemampuan verbal yang lebih tinggi.
2.    Pendekatan Psikoanalisis
Pada usia empat tahun biasanya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar yang menyebabkan anak-anak lebih sering bertanya. Proses ini menurut Freud adalah proses identifikasi (identification).  Identifikasi dalam teori aliran Freud merupakan proses dimana anak mengadopsi sekumpulan karakteristik keyakinan, sikap, nilai, dan prilaku dari orangtua dengan jenis kelamin yang sama. Tahap ini merupakan perkembangan kepribadian yang penting pada masa kanak-kanak awal.
3.    Pendekatan Kognitif
Dalam teori ini pembentukan gender seorang anak dilakukan berdasarkan pencarian aktif dari si anak akan petunjuk mengenai gender dalam dunia sosial mereka. Menurut Kohlberg, gender yang diperoleh tergantung pada konstanta gender atau sering disebut konstanta kategori jenis kelamin. Konstanta gender merupakan kesadaran anak bahwa jenis kelaminnya akan selalu tetap. Konstanta gender tumbuh dalam tiga tahap: identitas, stabilitas, dan konsistensi  gender.
4.    Pendekatan Berdasarkan Sosialisasi
Dalam teori pendekatan sosialisasi, anak memperoleh peran gender dari pengamatan mereka terhadap orangtua, guru, teman sebaya, dan institusi masyarakat. Pembentukan peran gender diperoleh dari :
a.    Pengaruh keluarga
b.    Pengaruh teman sebaya
c.    Pengaruh budaya
B.     BERMAIN : Urusan pada Masa Kanak-Kanak Awal
Bermain merupakan hal yang penting bagi anak karena melalui bermain, dapat merangsang indera anak, belajar menggunakan otot-otot mereka, mengoordinasikan gerakan dan penglihatan, memperoleh penguasaan tubuh, dan memperoleh keterampilan baru.
1.      Tingkat Kognitif dari Permainan
Piaget mengidentifikasikan tiga permainan, yaitu :
1.    Permainan fungsional (functional play) dimana melibatkan pergerakan otot yang berulang-ulang secara aktif.
2.    Permainan konstruktif (contructive play) dimana menggunakan benda untuk membuat rumah-rumahan atau krayon untuk menggambar.
3.    Permainan pura-pura (pretend play) dimana melibatkan orang-orang atau situasi khayalan. Biasanya permainan ini juga disebut permainan khayalan, drama, atau imajinatif.
2.      Dimensi Sosial Bermain
Tokoh : Mildred B. Parten (1932). Tipe permainan awal : bermain paling tidak sosial menjadi yang paling sosial.
1.    Unoccupied Behavior (prilaku tidak terlibat)
Anak tidak ikut bermain, anak hanya mengamati semua dengan ketertarikan sementara.
2.    Onlooker Behavior (prilaku sebagai penonton)
Anak tidak ikut bermain, hanya mengamati anak-anak yang sedang bermain, berbicara, bertanya, dan memberi saran kepada pemain. Terfokus akan pengamatan terhadap anak-anak yang bermain, bukan apapu yang dianggapnya menarik.
3.    Solitary Independent Play (bermain sendiri dan mandiri)
Anak bermain sendiri dengan permainannya yang berbeda dengan anak-anak disekitarnya dan tidak berkeinginan untuk bergabung dengan anak-anak yang lain.
4.    Parallel Play (bermain secara paralel)
Anak bermain sendiri tapi diantara anak-anak lain yang sedang bermain.  Mainan yang digunakan serupa dengan yang digunakan anak lain, tetapi tidak berkeinginan bermain dengan cara yang sama dan tidak berusaha untuk mempengaruhi permainan anak lain.
5.    Associative Play (bermain dengan anak lain)
Membicarakan tentang permainannya, pinjam-meminjam mainan, saling mengikuti dan mengontrol para pemain. Mereka bermsain bersama, tetapi tidak ada tujuan dan peraturan peran setiap oemain dan cenderung bermain sesuka hati. Tujuan bermain adalah untuk bersama dengan anak lain dan bukan pada aktivitas itu sendiri
6.    Cooperative Or Organized Supplementary Play
Bermain dalam gruop teratur untuk satu tujuan yag sama, beberapa anak mengontrol permainan dan memberi petunjuk. Setiap aak memiliki peran yang berbeda dan saling melengkapi.
Pada awalnya, Parten beranggapan bahwa perkembangan dan petumbuhan seorang anak akan mempengaruhi cara bermain anak. Semakin berkembang dan bertumbuh maka anak itu akan bermain semakin interaktif dan kooperatif.
a.    Reticent Play (keengganan bermain) disebabkan oleh rasa malu. Anak bermain disekitar anak lain yang sedang bermain, mengelilingi pemain tanpa tujuan. Hal tersebut sebagai awalan sebelum bermain dengan permainan anak lain. Anak cenderung disenangi dan memiliki masalah prilaku yang relatif lebih sedikit.
b.    Imaginative Play (bermasin imajinatif) merupakan tipe bermain pada anak usia prasekolah yang lebih sosial. Anak-anak pura-pura sendiri dan membuat suatu permainan drama yang melibatkan anak lain. Contohnya, anak bermain dengan permianannya sendiri, dia memainkan peran mainan yang satu dengan yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Papalia & Olds, 2004, Human Development, New York : McGraw-Hill Book Co
Papalia, Olds, & Feldman, 2009, Human Development – Perkembangan Manusia, Jakarta : Salemba Humanika, edisi 10 buku 1

2 komentar: