Sabtu, 29 Juni 2013

SIGMUND FREUD


PENDAHULUAN

Menurut Freud, setiap individu sesungguhnya bukan makhluk yang bebas, melainkan organisme yang tingkah lakunya ditentukan oleh sejumlah penentu bagi tingkah laku manusia yang berasal dari diri individu itu sendiri (naluri atau dorongan). Setiap individu hanya mampu dimengerti apabila individu tersebut dilihat dan dipelajari sebagai totalitas yang utuh. Kepribadian individu ditentukan oleh pengalaman masa kanak-kanak awal dan tidak akan berubah sepanjang hidup individu tersebut.
Freud percaya bahwa seluruh tingkah laku adalah sikap untuk bertahan (mempertahankan diri). Tapi tidak semua orang menggunakan pertahanan diri yang sama. Kita digerakkan oleh impuls id yang sama, tetapi tidak semua manusia memiliki kecenderungan ego dan superego yang sama. Meskipun hal-hal tersebut memiliki fungsi yang sama, tetapi terdapat banyak macam manusia, karena mereka dibentuk oleh pengalaman pikiran dan tidak pernah ada dua orang yang sama persis dalam pengalamannya meskipun mereka dibesarkan dalam satu rumah.
Ketiga struktur dari kepribadian menurut Freud adalah id, ego, superego. Pertama, id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer. Kedua, ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai  sesuatu yang ideal,  yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.
PEMBAHASAN

2.1        Sekilas Tentang Riwayat Hidup Sigmund Freud
Sigmund Freud adalah seorang Jerman berketurunan Yahudi lahir di Freiberg, Moravia, 6 Mei 1856. Ayahnya adalah pedagang yang kurang sukses di zaman itu. Ketika bisnis ayahnya gagal di Moravia, keluarga Freud pindah ke Leipzig, Jerman. Ketika Freud berumur 4 tahun keluarga mereka pindah lagi ke Wina dan tinggal di sana selama kurang lebih 80 tahun. Setelah Nazi datang dan menaklukkan Austria, ia pindah lagi ke London yang dimana pada akhirnya ia meninggal.
Freud adalah anak tertua dari 7 bersaudara, kendatipun demikian, ia merupakan favorit ibunya yang bangga akan kelahiran diri Freud. Ayahnya yang berwatak keras dan otoriter menyebabkan masa kecil Freud kurang menyenangkan, kebalikan dari ibunya yang pelindung dan penyayang. Sehingga menyebabkan Freud bernafsu dan tertarik pada ibunya. Ketertarikan itu menjadi dasar dari konsep Oedipus complex, bagian yang penting dari sistem Freud dan pencerminan dari masa kanak-kanaknya.
Freud terlihat cerdas dari kecil dibandingkan dengan anak-anak seumurnya. Ia masuk ke sekolah satu tahun lebih awal dari orang lain. Ia dapat berbahasa Jerman, Yunani, Latin, Perancis, Inggris dan Italia. Ia mulai membaca karangan Shakespeare dari umur 8 tahun. Setelah itu, Freud masuk ke Universitas Wina jurusan Kedokteran pada tahun 1873 sewaktu berusia 17 tahun dan tamat 8 tahun kemudian. Freud memberi perhatian khusus pada ilmu neurologi yang mendorongnya untuk mengadakan spesialisasi dalam perawatan terhadap orang-orang yang mengalami gangguan saraf. Pada tahun 1881, ia membuka praktek untuk orang-orang yang mengalami gangguan jiwa dan emosi. Dorongan untuk membuka praktek datang dari istrinya yang bernama Matha Bernays. Untuk memperdalam ilmunya itu, Freud belajar pada Jean Martin Charcot, seorang psikiatris di Prancis yang terkenal di masa itu. Jean menggunakan metode hipnotis untuk merawat pasien-pasiennya yang mana Freud tidak terlalu puas dengannya. Ketika ia mendengar tentang Joseph Breuer, seorang dokter di Wina yang mempergunakan teori lain yaitu dengan cara mengajak pasien bicara mengenai gejala-gejala yang mereka alami yang lebih dikenal dengan teori asosiasi bebas, biasa disebut catharsis. Breuer menerapkan ini pada seorang pasiennya yang bernama Anna.O. Yang pada akhirnya membuat Freud dan Breuer bekerja sama dalam menulis buku Studies in Hysteria. Tapi mereka segera bertentangan pendapat ketika Freud mengganggap penyebab histeria adalah konflik-konflik seksual. Hal ini menyebabkan Freud melakukan penelitian terpisah serta menghasilkan buku pertamanya Traumdeutung (The Intrepretation of Dream, 1900). Pandangannya itu membuat ia mendapat perhatian dari seluruh dunia. Ia diikuti berbagai ahli dari berbagai negara seperti Ernest Jones dari Inggris, Carl Gustav Jung dari Zurich, Alfred Adler dari Wina, dsb.
Setelah itu ia masih mempublikasikan beberapa karya seperti Psycho-pathology of Everyday Life pada tahun 1904 dan Three Essays on the Theory of Sexuality pada tahun 1905. Masyarakat mempertanyakan teorinya tersebut karena ia merupakan seorang neurolog dan mengapa ia malah membahas tentang seksualitas. Tahun 1896, Freud yakin bahwa konflik-konflik sexual merupakan dasar dari penyebab terjadinya neurosis, kebanyakan dari pasien wanitanya melaporkan mengenai pengalaman traumatik seksual semasa kanak-kanak. 
Selama 1920-1930, Freud mencapai kesuksesan namun kesehatannya semakin menurun. Hal ini disebabkan kebiasaan hidup Freud yang buruk seperti merokok, minuman keras, dan memakai drugs. Setelah itu putrinya Anna Freud meninggal, Freud pindah ke London, Freud mengalami penurunan kesehatan dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939.

2.2        Struktur Kepribadian Menurut Sigmund Freud
A.                  Konsep Mengenai Conscious dan Unconscious
Dalam teori psikoanalisa dinyatakan bahwa hampir sebagian besar perilaku dipengaruhi oleh kekuatan dari unconscious dan energi fisik yang kita miliki juga banyak digunakan untuk menemukan ekspresi yang sesuai dalam unconscious.
Sigmund Freud membagi kepribadian ke dalam tiga tingkatan kesadaran:
  1. Alam sadar (conscious)
Kita sadar akan segala sesuatu yang ada di sekitar kita, yang dapat kita lihat dan rasakan. Mencakup semua sensasi dan pengalaman yang kita sadari. Freud menganggap alam sadar itu aspek yang terbatas karena hanya porsi kecil dari pikiran, sensasi, dan ingatan yang siaga di alam sadar. Ia menghubungkan pikiran dengan sebuah gunung es dimana alam sadar berada di ujung es yang terapung.
  1. Alam pra-sadar (preconscious)
Bagian dimana kita dapat menjadi sadar jika kita menghadirkannya. Waktu yang diperlukan untuk membawa informasi ke tahap conscious inilah yang disebut sebagai  preconscious.
Merupakan gudang dari  memori, persepsi, dan pikiran kita dimana kita tidak secara sadar, siaga setiap waktu tetapi kita dapat dengan mudah memanggilnya ke alam kesadaran.
  1. Alam bawah sadar (unconscious)
Proses mental yang terjadi tanpa adanya conscious atau mungkin terjadi dengan adanya pengaruh yang khusus.
Merupakan fokus dari teori psikoanalisa. Bagian yang besar di dasar gunung es yang tidak kelihatan yang merupakan rumah dari instink, pengharapan, dan hasrat yang mengarahkan perilaku kita dan tempat penyimpanan kekuatan yang tidak dapat kita lihat dan kita kendalikan.

Teori psikoanalisa lebih terfokus pada unconscious dikarenakan keinginan–keinginan yang bersifat merangsang. Gagasan dalam psikoanalisa menyatakan bahwa kita memiliki tujuan untuk melindungi diri dari keinginan-keinginan yang diasosiasikan dengan pikiran dan kesenangan, dan kita mencapai tujuan ini dengan menjaga gagasan tersebut di luar kesadaran, menyimpannya jauh di dalam unconscious. Unconscious bersifat alogical ( tidak masuk akal ), mengabaikan ruang dan waktu.

The Motivated Conscious
Teori yang menyatakan bahwa sebagian perilaku kita ditentukan oleh pengaruh conscious. Jika keinginan-keinginan yang kita miliki tidak tersalurkan, maka akan timbul ketidaknyamanan dan rasa sedih. Dan untuk menghindari itu semua, kita membuang pikiran-pikiran tersebut dari ketidaksadaran. Beberapa pikiran yang dapat menyebabkan kesedihan akan dibuang dari consciousness seperti kenangan traumatik, perasaan cemburu, permusuhan atau keinginan untuk melakukan hubungan seksual dengan orang yang ditakuti, dan keinginan untuk menyakiti seseorang yang dicintai.
Bukti apa yang mendukung bahwa bagian unconscious ada dalam bagian pikiran? Dimulai dari observasi yang dilakukan Freud, ia menyadari pentingnya unconscious setelah mengobservasi fenomena hipnotis. Dalam metode hipnotis, mereka menampilkan perilaku di bawah perintah tanpa “diketahui” oleh conscious. Karena itu, Freud melanjutkan penelitian terapinya. Ia menemukan bahwa memori dan harapan-harapan terjadi bukan hanya karena merupakan bagian dari  consciousness tetapi “dilupakan dengan sengaja” pada unconscious kita.
Segala tingkah laku kita, menurut Freud bersumber pada dorongan-dorongan yang terletak jauh di dalam ketidaksadaran. Karena itu, Psikologi Freud  disebut juga Psikologi Dalam ( Depth Psychology ). Selain itu, teori Freud disebut juga sebagia Teori Psikodinamik ( Dynamic Psychology ), karena ia menekankan kepada dinaika atau gerak mendorong dari dorongan-dorongan dalam ketidaksadaran itu ke kesadaran. Perbedaan psikodinamika dari Freud dan Lewin adalah bahwa Freud lebih mementingkan gerakan dorongan-dorongan dalam  diri, sedangkan Lewin lebih mementingkan gerakan kekuatan-kekuatan di luar diri (objek-objek di lingkungan) yang saling tarik-menarik karena masing-masing mempunyai nilai positif atau negatif terhadap individu, sekalipun sebenarnya Lewin mengakui pula adanya dinamika dalam diri individu yang disebabkan kekuatan-kekuatan dari unsur-unsur yang ada dalam diri individu tersebut (misalnya motivasi).

B.                   Id, Ego, dan Superego
            Pada tahun 1923, Freud mengembangkan model struktural yang lebih formal bagi psikoanalisa. Freud memperkenalkan tiga struktur dasar dalam anatomi kepribadian yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda, yaitu:
1.                              Id
Id merupakan tempat penyimpanan instink dan libido. Id merupakan struktur yang kuat dari kepribadian karena id menyediakan energi bagi kedua komponen lain. Instink berhubungan langsung dengan pemenuhan kebutuhan fisik dan berusaha untuk memenuhinya. Id beroperasi dengan prinsip kesenangan (pleasure principle), fungsi id adalah untuk mencapai kesenangan dan menghindari ketidakpuasan. Id berjuang untuk mencapai kepuasan yang cepat dan tidak mentoleransi keterlambatan untuk kepuasan tersebut untuk alasan apapun. Id sangat egois, struktur pencarian kesenangan, primitif, tidak bermoral, pemaksa, dan terburu-buru.
Id tidak memiliki kesiagaan kepada realitas. Cara satu-satunya id untuk mencoba memenuhi kebutuhannya adalah dengan cara tindakan refleks dan pengharapan halusinasi atau pengalaman khayalan yang disebut Freud sebagai primary process thought dimana kenyataan dan khayalan tidak dapat dibedakan. Aspek dari primary process thought ini terlihat dalam mimpi, dimana karakteristik dari orang-orang dan objek yang berbeda dikombinasikan, peristiwa terjadi dengan cepat.
Seseorang harus berusaha belajar untuk menunda pemenuhan id untuk menghindari konsekuensi dari pemenuhan id dengan cara berpikir secara rasional terhadap dunia luar untuk mengembangkan kekuatan persepsi, pengenalan, penilaian, dan memori yang disebut Freud sebagai secondary process thought. Penjumlahan karakteristik dari rasionalitas ini akan dimasukkan ke struktur kepribadian Freud yang kedua, yaitu ego.
 2.                              Ego
Ego memiliki kecenderungan untuk siaga akan kenyataan. Ego memiliki kemampuan untuk mengerti dan memanipulasi lingkungannya dengan cara yang praktis dan menjalankannya dengan prinsip kenyataan (reality principles).
Ego adalah yang paling rasional di antara kepribadian. Tujuannya bukan untuk mencegah impuls-impuls id tetapi untuk membantu id untuk memgurangi ketegangan yang besar dari id. Oleh karena ego yang siaga akan relitas, ego memutuskan kapan dan bagaimana insting dari id dapat dipuaskan. Ia memutuskan perilaku yang cocok dan yang dapat diterima oleh masyarakat, waktu, tempat dan objek yang dapat memuaskan impuls id. Ego tidak mencegah id untuk dipuaskan. Ego hanya menunda, mengarahkan dalam kondisi yang diinginkan oleh realitas. Dengan cara ini ego mengontrol impuls id. Mengontrol dan menunda fungsi dari ego harus sering dilatih secara konstan. Atau impuls id akan mendominasi dan tidak terkendali oleh ego yang rasional.
 3.                              Superego
Prinsip ketiga yaitu superego yang berisi kesatuan dari nilai-nilai moral dan kepercayaan yang kita dapat semasa kanak-kanak. Ide kita tentang yang mana yang buruk dan yang baik. Sisi moral dari kepribadian ini biasanya dipelajari sewaktu kita berumur 5-6 tahun. Terdiri dari seperangkat aturan-aturan yang diturunkan oleh orang tua kita. Melewati hukuman, pujian dan juga contoh, anak-anak belajar perilaku yang mana yang dianggap baik dan buruk oleh orang tua mereka. Perilaku yang mana yang dihukum membentuk “conscience”, satu bagian dari superego. Bagian kedua dari superego adalah ego-ideal , yang memuat tentang perilaku yang baik dan benar dimana anak-anak dipuji.
Dengan cara ini anak-anak belajar seperangkat aturan menghasilkan penerimaan ataupun penolakan dari orang tua mereka. Seiring berjalannya waktu pengajaran ini akan terinternalisasi, dan hadiah serta hukuman menjadi hukum bagi dirinya sendiri. Kontrol dari orang tua akan digantikan dengan kontrol dari diri sendiri. Kita menjadi berprilaku kurang lebih seperti yang diinginkan orang sekitar kita dengan berpedoman pada moral yang ditanamkan tadi. Hasil dari internalisasi ini, kita merasa bersalah ataupun malu ketika kita melakukan ataupun memikirkan perilaku yang berlawanan dengan kode etik ini.
Tujuan dari superego bukan untuk menunda keinginan sang pencari kesenangan melainkan untuk menghambat mereka. Superego tidak berjuang untuk mencari kesenangan seperti id ataupun memiki tujuan yang realistis seperti ego. Id menekan kepuasan, ego mencoba untuk menundanya dan superego mengagungkan moralitas di atas semua. Seperti id, superego tidak mau berkompromi dengan keinginannya.

2.3        Dinamika Kepribadian Menurut Sigmund Freud
A.                  Insting (Kekuatan Pendorong Kepribadian)
Freud mendefenisikan insting sebagai representasi mental dari stimulus yang berjalan secara alamiah di dalam tubuh, seperti rasa lapar dan haus yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Insting merupakan elemen yang paling dasar dari kepribadian yang memotivasi perilaku seseorang dan mengarahkan perilaku itu.
Insting adalah sejumlah energi yang mentransformasikan energi fisiologis atau kebutuhan tubuh dengan pengharapan kita seperti misalnya pada saat seseorang lapar, ia akan bertindak untuk memuaskan kebutuhannya apabila melihat makanan. Teori dari Freud ini dinamakan homeostatic (homeostatic approach) yaitu suatu motivasi untuk memperbaiki atau mempertahankan kondisi yang stabil agar tubuh kita bebas dari tekanan. Freud mengatakan bahwa seseorang itu hanya mengutamakan kesenangan dan kebanyakan dari teori Freud ini berbicara mengenai pentingnya untuk menahan atau menekan keinginan seksual kita.
Freud mengklasifikasikan insting ke dalam 2 kategori yaitu:
1.                              Insting kehidupan (life instincts)
Insting kehidupan menyatakan tujuan hidup seorang individu dan spesies adalah untuk memenuhi kebutuhannya seperti makanan, air, dan kebutuhan akan seks. Insting kehidupan berorientasi pada pertumbuhan dan perkembangan. Bentuk energi psikis yang dipakai dalam insting kehidupan adalah libido yaitu yang mengarahkan seseorang ke pemikiran dan perilaku dengan prinsip kesenangan. Libido ini dapat diwujudkan dalam bentuk objek dan konsep ini menurut Freud dinamakan ”cathexis”.
Freud mengatakan bahwa hal yang paling penting dari kepribadian adalah seks. Ia tidak menyatakan bahwa seks adalah sesuatu yang erotis tetapi merupakan semua perilaku yang menyenangkan. Selain itu, Freud juga menganggap bahwa seks adalah motivasi yang primer. Pada tubuh kita terdapat beberapa daerah erogen seperti mulut, anus dan juga organ-organ seksual.
2.                              Insting kematian (death instincts)
Sebagai kebalikan dari insting kehidupan (life instincts), Freud mengemukakan death instincts. Sesuai pembelajaran biologi, dia mengemukakan fakta yang jelas bahwa semua yang hidup dapat rusak dan mati, kembali pada dasarnya yang mati dan dia mengemukakan bahwa manusia mempunyai keinginan tidak sadar untuk mati. Salah satu komponen dari death instincts adalah dorongan agresi, paksaan untuk menghancurkan, keinginan untuk berkuasa, dan membunuh.
Sebenarnya Freud tidak mengembangkan ide tentang insting kematian sampai akhir hidupnya. Namun pada saat kejadian–kejadian buruk terjadi seperti penyakit yang dideritanya (kanker) memburuk dan kematian anaknya mempengaruhi Freud, maka ia menjadikan insting kematian dan agresi sebagai tema utama dalam teorinya. Akan tetapi, konsep dari insting kematian ini tidak dapat diterima oleh sebagian orang termasuk pengikut setia Freud.

B.                   Kecemasan (Ancaman Terhadap Ego)
            Pada dasarnya, kecemasan tidaklah sama dengan ketakutan, walaupun kita mungkin menyadari bahwa kita ketakutan. Freud mendeskripsikan kecemasan sebagai suatu kesatuan tanpa objek karena kita tidak dapat menunjuk ke sumber ketakutan atau ke suatu objek khusus yang menyebabkan ketakutan tersebut.
            Freud memandang kecemasan sebagai bagian yang penting dari teori kepribadian yang dibuatnya, ia juga menilai bahwa kecemasan itu fundamental terhadap perkembangan pengaruh neuritis dan psikotis. Freud mengungkapkan bahwa prototype dari semua kecemasan adalah trauma kelahiran. Janin dalam rahim ibunya adalah dunia yang paling stabil dimana setiap kebutuhan dipuaskan tanpa adanya penundaan. Tetapi, saat kelahiran, organisme didorong ke lingkungan yang bermusuhan. Tiba-tiba bayi perlu mulai beradaptasi terhadap realita karena permintaan instingtualnya tidak selalu segera dapat dipenuhi.
Freud membedakan 3 macam kecemasan, yaitu:
  1. Kecemasan objektif atau realitas
Adalah sebuah ketakutan terhadap adanya bahaya yang nyata dalam dunia sebenarnya.
Contoh kecemasan objektif yaitu gempa bumi, angin topan, dan bencana yang sejenis. Kecemasan realitas memberikan tujuan positif untuk memandu perilaku kita untuk melindungi dan menyelamatkan diri kita dari bahaya yang aktual.
  1. Kecemasan neuritis
Adalah sebuah ketakutan yang berasal dari masa kanak-kanak dalam sebuah konflik antara kepuasan instingtual dan realita melibatkan konflik antara id dan ego. Anak-anak sering dihukum bila mengekspresikan  impuls seksual dan agresif secara berlebihan.
Pada tahap ini, kecemasan ini berada pada alam kesadaran, tetapi selanjutnya, ini akan ditransformasikan ke alam ketidaksadaran.  
  1. Kecemasan moral
Adalah sebuah ketakutan sebagai hasil dari konflik antara id dan superego. Essensinya, kecemasan moral adalah ketakutan dari kesadaran seseorang. Ketika seseorang termotivasi untuk mengekspresikan sebuah impuls instingtual yang berlawanan dengan pola moral, superego akan membalas dendam dengan membuat ita merasa malu atau bersalah.
Kecemasan moral didasarkan juga pada realitas. Anak-anak dihukum karena melanggar kode moral orangtuanya dan orang dewasa dihukum karena melanggar kode moral masyarakat.
Kecemasan memberi sinyal kepada individu bahwa ego sedang terancam dan jika tidak ada tindakan  yang diambil, maka ego akan jatuh. Bagaimana ego dapat melindungi atau mempertahankan dirinya?
Ada sejumlah pilihan yaitu :
·         Melarikan diri dari situasi yang mengancam.
·         Menghalangi munculnya kebutuhan impulsif yang menjadi sumber cahaya.
·         Mematuhi suara hati nurani dari kesadaran.

Jika tidak ada satupun dari teknik-teknik rasional ini bekerja, maka seseorang akan menggunakan mekanisme pertahanan, sebuah mekanisme tidak rasional yang dibuat untuk mempertahankan ego yaitu ego defense mechanism (mekanisme pertahanan ego) yaitu:
1.      Repression
Ini merupakan penolakan secara tak sadar dari keberadaan sesuatu yang membawa ketidaknyamanan dan kesakitan dan merupakan yang paling mendasar dan merupakan defense mechanism yang sering kali digunakan.
Repression dapat menjalankan ingatan akan suatu situasi dan orang, dan juga persepsi kita mengenai masa sekarang (jadi kemungkinan besar kita akan gagal untuk melihat situasi yang sangat jelas merupakan event yang mengganggu), bahkan terhadap fungsi tubuh. Sebagai contoh, seorang laki-laki bisa sangat kuat me-repress keinginan seksualnya sehingga menjadi impoten. Sekali repression dijalankan, sangat sulit untuk menghilangkannya.
2.      Denial
Denial sangat berhubungan erat dengan repression dan terlibat dalam menolak keberadaan ancaman dari luar ataupun event yang menimbulkan trauma yang telah muncul.Sebagai contoh, seseorang yang memiliki sakit kronis akan menyangkal kemungkinan bahwa ia akan meninggal. Orang tua dari anak-anak yang telah meninggal mungkin akan terus menyangkal kehilangan dengan cara membiarkan kamar anak tetap seperti sediakala.
3.      Reaction Formation
Suatu pertahanan yang digunakan untuk menghadapi impuls yang mengganggu dengan secara aktif mengekspresikan impuls yang berlawanan. Ini disebut sebagai reaction formation. Seseorang yang dengan kuat memiliki ancaman impuls seksual mungkin akan menekan impuls-impuls dan menggantikan mereka dengan perilaku yang dapat lebih diterima oleh masyarakat. Sebagai contoh, seorang yang terancam oleh keinginan seksual mugkin akan memutarnya dengan cara menjadi orang yang paling anti terhadap pornografi. Orang lain yang mungkin sangat terganggu dengan impuls agresif, mungkin menjadi terlalu jinak dan ramah. Bisa juga terjadi benci menjadi cinta.
4.      Projection
Cara lain untuk menanggapi impuls yang mengganggu adalah untuk memproyeksikan impuls yang mengganggu kepada orang lain. Defense mechanism ini disebut projection. Keagresifan ataupun impuls lain yang tidak dapat diterima terlihat sebagai yang dilakukan oleh orang lain. Bukan hanya pada suatu pribadi. Sebagai efeknya kita dapat melihat seseorang berkata, “bukan saya yang membencinya, tetapi ia membenci saya”. Atau seorang wanita setengah baya mungkin memproyeksikan keinginan seksualnya itu bahwa anak perempuannya yang remaja yang memilikinya.
5.      Regression
Di dalam regression, manusia akan mundur ke tahap periode hidupnya yang lebih awal. Regresion biasanya melibatkan kembalinya kita ke salah satu tahap psikoseksual dari perkembangan kanak-kanak. Individu kembali ke masa tersebut diikuti dengan manifestasi perilaku yang berlaku pada waktu itu, misalnya berlaku seperti kanak-kanak dan cenderung bersikap kanak-kanak dan perilaku yang tergantung pada orang lain.
 6.      Rationalization
Rationalization merupakan defense mechanism yang melibatkan intrepretasi ulang perilaku kita untuk membuatnya menjadi lebih rasional dan dapat diterima oleh kita. Kita memaafkan atau menilai suatu ancaman melalui suatu tindakan yang membujuk diri kita sendiri bahwa ada alasan yang rasional di balik perlakuan kita. Orang yang dipecat mungkin merasionalisasikan dengan cara mengatakan bahwa pekerjaan tersebut juga bukan pekerjaan yang bagus untuk dirinya. Itu lebih kurang mengancam untuk menyalahkan orang lain ataupun sesuatu daripada kita sendiri jika kita gagal. Ini adalah poin yang perlu diingat mengapa kita menyalahkan dosen kita karena kita tidak lulus ujian.

7.      Displacement
Kalau objek yang dibutuhkan untuk memuaskan id tidak ada, orang kemungkinan besar akan menggantinya dengan objek yang lain. Contohnya, ketika seorang tidak senang kepada atasannya atau anak-anak tidak senang kepada orang tua mereka, mereka tidak berani mengekspresikan ketidaksenangannya itu pada mereka karena takut akan hukuman yang diberikan. Jadi mereka melampiaskannya kepada orang lain. Di dalam contoh tersebut mereka mengganti obyek yang original dengan objek yang bukan merupakan ancaman bagi mereka. Bagaimanapun ini tidak terlalu memuaskan id seperti menggunakan objek original.

8.      Sublimation
Sublimation terlibat dalam mengubah impuls id. Energi insting diganti menjadi perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan juga diterima oleh masyarakat. Energi seksual, misalnya, menjadi perilaku yang artistik dan kreatif. Freud percaya bahwa beberapa kegiatan manusia, terutama kegiatan artistik. Merupakan manifestasi dari impuls-impuls id yang diarahkan kembali menjadi perilaku yang dapat lebih diterima oleh masyarakat.

2.4        Perkembangan Kepribadian Menurut Sigmund Freud (Psychosexual stages of Personality Development)
Freud percaya bahwa seluruh tingkah laku adalah sikap untuk bertahan (mempertahankan diri). Tapi tidak semua orang menggunakan pertahanan diri yang sama. Kita digerakkan oleh impuls id yang sama, tetapi tidak semua manusia memiliki kecenderungan ego dan superego yang sama. Meskipun hal-hal tersebut memiliki fungsi yang sama, tetapi terdapat banyak macam manusia, karena mereka dibentuk oleh pengalaman pikiran dan tidak pernah ada dua orang yang sama persis dalam pengalamannya meskipun mereka dibesarkan dalam satu rumah.
Karakter unik seseorang berkembang saat masa kanak-kanak, sebagian besar dari interaksi orang tua dan anak-anak. Anak-anak mencoba untuk memaksimalkan kesenangan dengan memuaskan kehendak id, sedangkan orang tua mencoba untuk meningkatkan kehendak reality dan morality. Jadi, penting bagi Freud untuk mengingat pengalaman masa kanak-kanak bahwa kepribadian orang dewasa terbentuk dan diperoleh sejak lima tahun pertama kehidupan.
Freud membuat teori psychosexual stages of development. Dalam setiap tahap perkembangan, suatu konflik harus diselesaikan sebelum bayi atau anak-anak menuju tahap selanjutnya.
Terkadang, seseorang tidak bisa berpindah ke tahap selanjutnya karena konflik yang terjadi belum terselesaikan atau karena kebutuhan-kebutuhannya telah terlalu banyak dipuaskan oleh orang tua yang memanjakannya sehingga anak tersebut tidak mau maju. Dengan kata lain, individu tersebut dikatakan mengalami fixation dalam tahap perkembangannya. Fixation merupakan bagian dari libido atau psychic energy yang tertinggal dalam tahap perkembangan, meninggalkan energi yang sedikit untuk tahap-tahap berikutnya.
1.                                          Fase Oral
Fase oral merupakan tahap pertama dari perkembangan psikoseksual. Dalam tahap ini, sumber kenikmatan adalah rangsangan yang sampai pada bibir dan mulut. Mulut digunakan untuk bertahan hidup (untuk proses pencernaan makanan dan minuman), tetapi Freud menempatkan perhatian yang lebih besar pada kepuasan nafsu yang didapat dari aktifitas oral.
Ada dua tipe perilaku dalam tahap ini, yaitu oral incorporative behavior (memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut) dan oral aggressive atau oral sadistic behavior (menggigit dan meludah). Tipe oral incorporative muncul pertama kali dan melibatkan stimulus yang menyenangkan pada mulut dari orang lain atau dari makanan. Fase oral yang kedua, yaitu oral aggressive atau oral sadistic, terjadi ketika gigi mengalami kesakitan karena munculnya gigi baru. Sebagai hasil dari kejadian ini, bayi memiliki perasaan benci sekaligus cinta terhadap ibunya. Orang yang terfiksasi dalam tahap ini cenderung pesimis, bermusuhan, dan bersikap agresif. Mereka cenderung suka menentang dan sarkastik, mengucap kata-kata yang menggigit dan memperlihatkan kekejaman terhadap orang lain. Mereka cenderung dengki terhadap yang lain dan mencoba untuk mengeksploitasi dan memanipulasi mereka dalam usaha untuk mendominasi.

2.                                          Fase Anal
Masyarakat cenderung untuk menunda kebutuhan-kebutuhan bayi selama satu tahun pertama kehidupan, menyesuaikan permintaan mereka dan mengharapkan secara relatif sedikit penyesuaian sebagai imbalan. Situasi ini berubah setelah sekitar 18 bulan, ketika permintaan yang baru (toilet training) muncul pada anak. Freud percaya bahwa pengalaman toilet training selama fase anal memiliki efek yang besar terhadap perkembangan kepribadian. Defekasi menghasilkan kenikmatan untuk anak, tetapi dengan munculnya toilet training, anak harus menunda kesenangan ini. Untuk pertama kalinya, kesenangan terhadap impuls naluriah diganggu oleh usaha orang tua untuk mengatur waktu dan tempat defekasi.
Jika toilet training ini tidak berjalan lancar, yaitu anak memiliki kesulitan dalam belajar atau orang tua meminta terlalu banyak, anak akan bereaksi dalam satu atau dua cara. Cara yang pertama yaitu membuang air besar ketika dan di mana orang tua tidak setuju, dalam arti menentang usaha orang tua untuk mengatur. Jika anak menemukan teknik ini memuaskan untuk mengurangi frustasi dan sering menggunakannya, anak tersebut mungkin akan mengembangkan anal aggressive personality. Bagi Freud, ini adalah dasar untuk berbagai bentuk perilaku sadistik dan permusuhan dalam kehidupan dewasa, meliputi kekejaman, menghancurkan, dan temper tantrum. Cara kedua dari reaksi anak terhadap rasa frustasi dari toilet training adalah untuk menahan feses. Ini menghasilkan perasaan menyenangkan dan bisa menjadi teknik yang berhasil untuk memanipulasi orang tua. Orang tua akan menjadi cemas jika anak tidak buang air besar selama beberapa hari, sehingga anak menemukan metode baru untuk mengamankan perhatian dari orang tua. Perilaku ini merupakan dasar untuk perkembangan anal retentive personality. Orang ini cenderung menjadi kaku, rapi secara kompulsif, keras kepala dan berhati-hati.

3.      Fase Phallic
Pada tahap ini, anak memperlihatkan ketertarikannya untuk mengeksplorasi dan bermain dengan alat genitalnya. Kesenangan yang diperoleh melalui alat genital tidak hanya melalui perilaku seperti masturbasi tetapi juga melalui khayalan, anak-anak menjadi ingin tahu tentang kelahiran dan mengenai kenapa anak laki-laki mempunyai penis sedangkan anak perempuan tidak.
Konflik dasar dari tahap phallic berpusat pada hasrat yang tidak disadari kepada orang tua yang berlainan jenisnya. Bersamaan dengan ini, terdapat keinginan untuk menggantikan orang tua sesama jenisnya. Freud mengidentifikasi konflik tersebut dan mengemukakan konsepnya tentang:
·         Oedipus complex yaitu hasrat yang tidak disadari oleh seorang anak laki-laki terhadap ibunya, dan berkeinginan untuk menggantikan dan menyingkirkan ayahnya. Dengan hasrat untuk menyingkirkan ayahnya karena ketekutannya bahwa ayahnya akan membalas dendam dan menyakitinya. Dia mengintepretasikan ketakutannya bahwa ayahnya akan memotong alat genitalnya yang merupakan sumber kesenangan dan keinginan seksualnya disebut Freud sebagai castration anxiety.
·         Electra complex yaitu hasrat yang tidak disadari oleh seorang anak perempuan terhadap ayahnya, dan berkeinginan untuk menggantikan ibunya. Disini anak perempuan menemukan bahwa mereka tidak mempunyai penis seperti anak laki-kaki dan mereka menyalahkan ibunya dikenal dengan istilah penis envy yaitu perasaan cemburu terhadap anak laki-laki yang mempunyai penis disertai perasaan kehilangan karena anak perempuan tidak memiliki penis.
Freud mengemukakan kepribadian anak laki-laki pada masa phallic adalah tidak tahu malu, sia-sia, dan keyakinan diri. Sedangkan kepribadian anak perempuan pada masa phallic adalah melebih-lebihkan feminitas dan bakatnya untuk mengemudikan dan menaklukan orang lain.

  1. Fase Laten
Penyimpangan dan stress dari tahap oral, anal, dan phallic dari perkembangan psikoseksual  merupakan gabungan dari kepribadian orang dewasa yang terbentuk. Tiga struktur major dari kepribadian yaitu Id, Ego, dan Superego telah dibentuk pada umur kira-kira 5 tahun dan hubungan antara mereka telah dipadatkan.
Beruntungnya anak-anak dan para orang tua dapat beristirahat sejenak karena 5 atau sampai 6 tahun ke depan adalah merupakan masa tenang. Tahap laten bukanlah tahap psikoseksual dari perkembangan. Insting seks menjadi dorman, dan digantikan dengan aktivitas sekolah, hobi, dan olahraga serta mengembangkan hubungan pertemanan dengan anggota yang berjenis kelamin sama. Freud telah dikritik tentang kekurang tertarikannya terhadap periode laten. Sementara teori kepribadian lain menganggap pada tahun-tahun periode ini menghadirkan problem yang signifikan dan tantangan yang melibatkan teman sebaya dan adaptasi terhadap dunia luar.

  1. Fase Genital
Fase genital merupakan tahap akhir dari tahapan perkembangan psikoseksual, dimulai sejak masa pubertas, badan secara fisiologis tumbuh dengan matang, jika tidak berarti ada penyimpangan yang berarti pada tahap awal perkembangan. Konflik yang terjadi pada periode ini lebih jarang dibandingkan dengan tahap lain. Sanksi sosial ada untuk mengontrol ekspresi seksual yang harus ditaati oleh para remaja, tetapi konflik dorongan seksual dapat ditekan para remaja setidaknya melalui substitusi ke perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan selanjutnya berhubungan dan berkomitmen dengan orang yang berlawanan jenis. Tahap genital ini mencari kepuasan melalui cinta dan pekerjaan, ini menjadi perilaku yang dapat diterima oleh impuls-impuls id.
Freud menekankan pada pentingnya masa kanak-kanak awal di dalam menentukan kepribadiannya setelah dewasa. Menurut Freud, 5 tahun pertama kehidupan merupakan saat yang penting. Teori kepribadiannya kurang memperhatikan masa perkembangan kanak-kanak akhir, remaja, ataupun dewasa. Menurut Freud, apa yang terjadi ketika kita dewasa, cara kita berperilaku dan merasakan ditentukan oleh konflik yang terjadi pada kita yang harus kita hadapi jauh sebelum kita dewasa.

2.5        Assessment (penilaian) Teori Freud
Freud menyatakan bahwa unconscious merupakan yang utama memotivasi kekuatan dalam hidup. Tujuan dari teori Freud dari psikoanalisis adalah untuk membawa ingatan yang telah direpress, ketakutan, dan pikiran kembali ke dalam conscious. Freud memperkenalkan dua metode dari penilaian setelah hasil kerjanya dengan banyak pasien, yaitu:
1.      Free Association, yaitu teknik dimana pasien mengatakan apapun yang datang dalam pikiran mereka semacam lamunan. Freud menggunakan proses yang dinamakan catharsis yaitu ekspresi dari emosi yang diharapakan dapat mengurangi tegangan yang mengganggu gejala-gejala. Bertujuan untuk membuat pasien merasa lebih baik.
2.      Dream Analysis, yaitu suatu teknik yang menyertakan interpretasi mimpi untuk membongkar konflik yang tidak disadari. Mimpi mempunyai manifest content (peristiwa yang nyata dalam mimpi) dan latent content (maksud simbolis dalam mimpi).
PENUTUP

Dalam teori psikoanalisa dinyatakan bahwa hampir sebagian besar perilaku dipengaruhi oleh kekuatan dari unconscious dan energi fisik yang kita miliki juga banyak digunakan untuk menemukan ekspresi yang sesuai dalam unconscious. Segala tingkah laku kita, menurut Freud bersumber pada dorongan-dorongan yang terletak jauh di dalam ketidaksadaran.
Freud mengembangkan model struktural yang memperkenalkan tiga struktur dasar dalam anatomi kepribadian yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda, yaitu id, ego, dan superego.
Freud memandang insting merupakan elemen yang paling dasar dari kepribadian yang memotivasi perilaku seseorang dan mengarahkan perilaku itu. Freud juga memandang kecemasan sebagai bagian yang penting dari teori kepribadian yang dibuatnya. Freud mendeskripsikan kecemasan sebagai suatu kesatuan tanpa objek karena kita tidak dapat menunjuk ke sumber ketakutan atau ke suatu objek khusus yang menyebabkan ketakutan tersebut.
Jika kecemasan membuat posisi ego terancam maka ego mengeluarkan mekanisme pertahanannya yang meliputi repression, denial, reaction formation, projection, regression, rationalization, displacement, dan sublimation.
Freud membuat teori psychosexual stages of development yang terdiri dari fase oral, fase anal, fase phallic, fase laten, dan fase genital. Dalam setiap tahap perkembangan, suatu konflik harus diselesaikan sebelum bayi atau anak-anak menuju tahap selanjutnya karena karakter unik dari kepribadian berkembang pada masa kanak-kanak. Oleh sebab itu, Freud mengemukakan bahwa lima tahun pertama kehidupan merupakan masa yang penting untuk perkembangan kepribadian.
                                    
 DAFTAR PUSTAKA
 Schultz, Duane. 1993. Theories of Personality. California: Brooks/ Cole Publishing Company.
Pervin, Lawrence A. 2005 9th edition. Personality Theory and Research. America: John Wiley and Sons.

2 komentar: